Naya dan Eksistensi
Sedikit mengulang memori, tahun 2017 – 2018 merupakan tahun-tahun yang membingungkan bagi ku. Sebagai manusia sekaligus perupa, aku merasa kebingungan, tidak sadar, hilang arah, terkadang aku memiliki pertanyaan seperti “Aku ini siapa?” “Apa tujuan hidupku?”, “Untuk apa aku menggambar?”, “Apa tujuanku menciptakan sebuah karya?” ahh dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ku jawab. Aku ini orangnya overthinking, sampai-sampai pertanyaan tersebut membuat mental ku terganggu sekaligus tekanan-tekanan dari berbagai pihak keluarga dan lingkungan sekitar yang mengharuskan ku untuk menjalani hidup layaknya remaja normal. Mungkin bagi sebagian orang ini semua terasa sepele, apa ini yang dinamakan depresi? apa ini yang dinamakan quarter life crisis? Tetapi aku selalu mencoba untuk denial dan tidak self-diagnose dengan keadaan ini.
Puncaknya dipertengahan tahun 2018 aku mulai merasa semua keadaan ini semakin membingungkan dan ini berdampak ke kegiatan berkesenian ku yang mulai tidak produktif. Yang kulakukan hanyalah merenung, mencari, merenung, mencari.. sampai suatu saat aku menyaksikan sebuah seminar di kanal youtube TEDxTalks disitu mereka membahas tentang Krisis Identitas, disaat itu pun aku mulai berpikir mungkin ini yang sedang terjadi padaku, ahh tidak mungkin, justru sudah sedari lama aku menemukan identitas ku sebagai seorang perupa. Lalu apa? Mungkin bukan identitas ku sebagai manusia tetapi identitas ku dalam berkesenian. Aku semakin yakin karena dimasa-masa itu aku merasa karya-karya yang dibuat seperti mati tidak ada artinya lagi, useless, yang ku buat hanya visual-visual yang ngasal dan keren dimata sendiri dan orang lain saja dengan tujuan agar banyak orang yang suka. Ya walaupun tidak bisa dipungkiri juga manusia memang suka apresiasi. Aku merasa hal ini sudah terlalu lama berlangsung dan terus membuang energi-energi postifku.
![]() |
| Naya // Instagram: naufaladhip_ |
Waktu semakin berlalu.. aku ingat saat itu sedang bernostalgia dengan menyaksikan serial tokusatsu Jepang yaitu Kamen Rider setelah itu tiba-tiba saja tercetus sebuah ide untuk membuat sebuah karakter yang akan menemani dalam karya-karyaku ku, oh iya sebelumnya aku juga suka superhero, aku suka Batman, aku suka Kamen Rider, aku suka hal-hal yang berbau fantasi / science fiction, aku suka sejarah, aku suka mempelajari okultisme, aku tertarik dengan dunia esoteric, dsb. Disini juga aku menyadari mungkin ini yang membuatku tidak sadar, bingung dalam berkesenian seperti yang kujelaskan diparagraf awal, aku tidak jujur terhadap hal-hal yang kusukai karena dari awal sudah termakan statement & stereotip yang beredar seperti: jika seorang remaja/dewasa menggemari superhero malah terlihat kekanak-kanakan, tertarik pada dunia esoteric & okultisme adalah sesuatu yang dianggap tabu dan dilarang terlebih lagi jika hidup di lingkungan kultur Islam yang kuat.
Kembali ke karakter, ya terlintas sebuah ide yang mengharuskan ku membuat sebuah karakter yang bernama “Naya”. Naya adalah sebuah karakter fiktif yang hidup di fantasi kepala ku, terinspirasi dari manusia cyborg belalang nya Shotaro Ishinomori yaitu Kamen Rider. Nama “Naya” pun diambil dari Bahasa Jawa kuno Naya-Ka yang artinya “Utusan mangrasul”, sesuai dengan artinya sosok Naya aku utus untuk hidup di dalam fantasi kepalaku dalam rangka menjawab pertanyaan-pertaanyaan yang tak bisa ku jawab seperti yang ditekankan di paragraf awal, ia hidup dalam dunia yang bernama “Anarthria Fantasias” ini juga banyak terinspirasi dari pop kultur Jepang seperti Akira, Dragon Ball, Super Sentai, dll. Mungkin tidak akan kujelaskan arti dari “Anarthria Fantasias” dikarenakan sangat personal hahaha.
Harapan ku dalam menciptakan sosok Naya ini cukup sederhana yaitu agar teman-teman yang lain tidak kehilangan persona diri, identitas sebagai manusia, dll, sekaligus untuk menjawab pertaanyan-pertanyaan yang tak bisa kujawab, walaupun ada beberapa yang telah terjawab namun pada akhirnya menghasilkan pertanyaan-pertanyaan baru..
![]() |
| Naya // Instagram: naufaladhip_ |
Btw ngomong-ngomong soal Krisis Identitas, aku juga merasa banyak orang lain yang sedang mengalami ini walaupun mereka tidak menyadari nya.. Pernah gak sih curhat masalah privasi, nyindir orang pake fake account untuk komen-komen jahat, insecure kalo ke luar rumah tanpa make up, niru selera musik-film dan hal-hal yang orang lain suka, bahas hal-hal yang gak dimengerti, bahkan posting foto orang lain tanpa nyatumin sumbernya biar dapet validasi dari orang lain bahawa kita ini keren, cool, hits dan pinter? Dikit-dikit live IG, bentar-bentar posting video muka sendiri & selfie? Intinya Cuma mau nunjukin aja kalo eksis dan perlu diperhitungkan keberadaannya di dunia yang kita bikin ribet sendiri.
Kalo kata Merriam Webster Dictionary sederhana nya gini, a feeling of unhappiness and confusion caused by not being sure about what type of person you really are or what the true purpose of your life is. Krisis identitas umumnya dialami ketika transisi dari remaja ke dewasa awal, jadi di masa-masa itu kita sedang beradaptasi dengan perubahan baik dari segi fisik, psikis dan lingkungan. Krisis Identitas juga bagian dari stage dimana validasi orang lain menjadi sangat penting dan pengakuan orang atas eksistensi kita jadi sangat mempengaruhi mood bahkan motivasi. Kalo udah semakin parah krisis identitas ini juga menjerumuskan kita ke pergaulan, relationship dan pertemanan yang kurang sehat.
Identitas adalah pengetahuan tentang siapa diri kita, dan jika kita masih belum bisa menjawab pertanyaan “Who am I?” mungkin kita masih terjebak dalam krisis dan meniru orang lain. Sebenarnya memiliki Role Model sah-sah saja asalkan jangan sampai kehilangan identitas diri saat berusaha mencontoh mereka. Dengan mengetahui siapa diri kita, kita juga bisa tahu prinsip, cara kita menyelesaikan permasalahan dan jadi tahu apa yang harus kita lakuin buat memaksimalkan potensi diri.
Lalu bagaimana mengatasi krisis tersebut? ..
Berdamai dengan diri sendiri. Jauh sebelum ngelakuin hal lain dalam rangka ‘mencari diri sendiri’, kita perlu memaafkan dan menerima kalau kita punya banyak kekurangan. Sadar aja sih kalo nilai unik dan keren nya kita berbeda sama orang lain. Dari sini kita bisa mulai berani untuk berubah, berubah jadi siapa? Ya jadi diri sendiri dan gak terjebak baying-bayang orang yang kita kagumi. Jadi kekaguman kita sama orang lain untuk motivasi menemukan ‘kelebihan’ diri sendiri, bukan untuk mengimitasi.
Kontemplasi. Luangin waktu untuk berkontemplasi, mikir siapa diri kita, apa sih yang bikin bahagia, music, film, buku apa yang kita suka, hobi kita, impian dan tujuan hidup sampai relationship seperti apa yang bikin kita jadi the best version of ourselves.
Tanpa tahu kekuatan diri kita, selama itu pula kita terus berusaha menjadi orang lain dan bangga akan kekerenan nya mereka. Jangan suka banding-bandingin diri sendiri sama orang lain sih, coba bersikap bodo amat aja kalo hal yang anggap kita keren malah gak keren menurut orang lain. ‘When you are content to be simply yourself and don't compare or compete, everyone will respect you..’ last but not least, be that cool person with your own kinda cool!


Kami rindu noirthetic dengan art yang bersuasana gelap. ..
BalasHapus